Pembelajaran / Learning
Syifa Alya Nabila
16115777
3KA12
Sistem Informasi
Universitas Gunadarma
Pembelajaran / Learning
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan
pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru
dan siswa yang saling bertukar informasi.
1.
Pembelajaran
dari Pengamatan
Merupakan interaksi peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi
guru dan siswa yang saling bertukar informasi pada aktivitas yang dilakukan
makhluk cerdas, terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan
kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan
gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi-informasi
yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian.
2.
Bentuk
Pembelajaran
bentuk-bentuk pengajaran dalam
konteks learning by doing, diantaranya:
a. Menumbuhkan motivasi belajar anak
Motivasi berkaitan erat dengan emosi,
minat, dan kebutuhan anak didik. Upaya menumbuhkan motivasi intrinsik yang
dilakukan guru adalah mendorong rasa ingin tahu, keinginan mencoba, dan sikap
mandiri anak didik. Sedangkan bentuk motivasi ekstrinsik adalah dengan
memberikan rangsangan berupa pemberian nilai tinggi atau hadiah bagi siswa
berprestasi dan sebaliknya.
b. Mengajak anak didik beraktivitas
Adalah proses interaksi edukaktif
melibatkan intelek-emosional anak didik untuk meningkatkan aktivitas sehingga
motivasi akan meningkat. Bentuk pelaksanaanya adalah mengajak anak didik
melakukan aktivitas atau bekerja di laboratorium, di kebun/lapangan sebagai
bagian dari eksplorasi pengalaman, atau mengalami pengalaman yang sam sekali
baru.
c. Mengajar dengan memperhatikan perbedaan
individual
Proses kegiatan belajar mengajar
dilakukan dengan memahami kondisi masing-masing anak didik. Tidak tepat jika
guru menyamakan semua anak didik karena setiap anak didik mempunyai bakat
berlainan dan mempunyai kecepatan belajar yang bervariasi. Seorang anak didik
yang hasil belajarnya jelek dikatakan bodoh. Kemudian menyimpulkan semua anak
didik yang hasil belajarnya jelek dikatakan bodoh. Kondisi demikian tidak dapat
dijadikan ukuran, karena terdapat beberapa faktor penyebab anak memiliki hasil
belajar buruk, antara lain; faktor kesehatan, kesempatan belajar dirumah tidak
ada, sarana belajar kurang, dan sebagainya.
d.
Mengajar dengan umpan balik
Bentuknya antara lain; umpan balik
kemampuan prilaku anak didik (perubahan tigkah laku yang dapat dilihat anak
didik lainnya, pendidik atau anak didik itu sendiri), umpan balik tentang daya
serap sebagai pelajaran untuk diterapkan secara aktif. Pola prilaku yang kuat
diperoleh melalui partisipasi dalam memainkan peran (role play).
e. Mengajar dengan pengalihan
Pengajaran yang mengalihkan
(transfer) hasil belajar kedalam situasi-situasi nyata. Guru memilih metode
simulasi (mengajak anak didik untuk melihat proses kegiatan seperti cara
berwudlu dan sholat) dan metode proyek (memberikan kesempatan anak untuk
menggunakan alam sekitar dan atau kegiatan sehari-hari untuk bertukar pikiran
baik sesama kawan maupun guru) untuk
pengalihan pengajaran yang bukan hanya bersifat ceramah atau diskusi, tetapi
mengedepankan situasi nyata.
f. Penyusunan pemahaman yang logis dan
psikologis
Pengajaran dilakukan dengan memilih
metode yang proporsional. Dalam kondisi tertentu guru tidak dapat meninggalkan
metode ceramah maupun metode pemberian tugas kepada anak didik. Hal ini dilakukan
sesuai dengan kondisi materi pelajaran.
3. Pembelajaran Induktif
Pembelajaran induktif adalah sebuah
pembelajaran yang bersifat langsung tapi sangat efektif untuk membantu siswa
mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan keterampilan berpikir
kritis. Model pembelajaran induktif adalah sebuah pembelajaran yang bersifat
langsung tapi sangat efektif untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan
berpikir tingkat tinggi dan keterampilan berpikir kritis. Pada model
pembelajaran induktif guru langsung memberikan presentasi informasi-informasi
yang akan memberikan ilustrasi-ilustrasi tentang topik yang akan dipelajari
siswa, selanjutnya guru membimbing siswa untuk menemukan pola-pola tertentu
dari ilustrasi-ilustrasi yang diberikan. Model pembelajaran induktif dirancang
berlandaskan teori konstruktivisme dalam belajar. Model ini membutuhkan guru
yang terampil dalam bertanya (questioning) dalam penerapannya. Melalui
pertanyaan-pertanyaan inilah guru akan membimbing siswa membangun pemahaman
terhadap materi pelajaran dengan cara berpikir dan membangun ide. Tingkat
keefektifan model pembelajaran induktif ini, jadinya-sangat tergantung pada keterampilan
guru dalam bertanya dan mengarahkan pembelajaran, dimana guru harus menjadi
pembimbing yang akan untuk membuat siswa berpikir.
Struktur sosial dalam pembelajaran
menjadi ciri lingkungan kelas yang sangat dibutuhkan untuk belajar melalui
model pembelajaran induktif. Model pembelajaran induktif mensyaratkan sebuah
lingkungan belajar yang mana di dalamnya siswa merasa bebas dan terlepas dari
resiko takut dan malu saat memberikan pendapat, bertanya, membuat konklusi dan
jawaban. Mereka harus bebas dari kritik tajam yang dapat menjatuhkan semangat
belajar.
Model ini dikembangkan atas dasar beberapa
postulat sebagai berikut:
1. Kemampuan berpikir dapat diajarkan
2. Berpikir merupakan suatu transaksi
aktif antara individu dengan data. Artinya, dalam seting kelas,
bahan-bahan ajar merupakan sarana
bagi siswa untuk mengembangkan operasi kognitif tertentu.
Dalam seting tersebut, dimana siswa
belajar mengorganisasikan fakta ke dalam suatu sistem konsep,yaitu:
Saling menghubung-hubungkan data yang
diperoleh satu sama lain serta membuat kesimpulan berdasarkan hubungan-hubungan
tersebut
Menarik kesimpulan berdasarkan
fakta-fakta yang telah diketahuinya dalam rangka membangun hipotesis,dan
Memprediksi dan menjelaskan suatu
fenomena tertentu. Guru, dalam hal ini, dapat membantu proses internalisasi dan
konseptualisasi berdasarkan informasi tersebut
3. Proses berpikir merupakan suatu
urutan tahapan yang beraturan (lawful). Artinya, agar dapat menguasai
keterampilan berpikir tertentu, prasyarat tertentu harus dikuasai terlebih
dahulu, dan urutan tahapan ini tidak bisa dibalik. Oleh karenanya, konsep
tahapan beraturan ini memerlukan strategi mengajar tertentu agar dapat
mengendalikan tahapan-tahapan tersebut.
Berpikir induktif melibatkan tiga
tahapan yang dikembangkan tiga strategi cara mengajarkannya.
4.
Pohon
Keputusan
Pohon keputusan adalah salah satu
metode klasifikasi yang paling popular karena mudah untuk diinterpretasi oleh
manusia. Konsep dari pohon keputusan adalah mengubah data menjadi pohon
keputusan dan aturan-aturan keputusan.
Gambar: Konsep Pohon Keputusan
Proses pada pohon keputusan adalah
mengubah bentuk data (tabel) menjadi model pohon, mengubah model pohon menjadi
rule, dan menyederhanakan rule. Manfaat utama dari penggunaan pohon keputusan
adalah kemampuannya untuk membreak down proses pengambilan keputusan yang
kompleks menjadi lebih simpel sehingga pengambil keputusan akan lebih
menginterpretasikan solusi dari permasalahan. Pohon Keputusan juga berguna
untuk mengeksplorasi data, menemukan hubungan tersembunyi antara sejumlah calon
variabel input dengan sebuah variabel target.
Pohon keputusan merupakan himpunan
aturan IF...THEN. Setiap path dalam tree dihubungkan dengan sebuah aturan, di
mana premis terdiri atas sekumpulan node-node yang ditemui, dan kesimpulan dari
aturam terdiri atas kelas yang terhubung dengan leaf dari path.
Gambar: Konsep Dasar Pohon Keputusan
Bagian awal dari pohon keputusan ini
adalah titik akar (root), sedangkan setiap cabang dari pohon keputusan
merupakan pembagian berdasarkan hasil uji, dan titik akhir (leaf) merupakan
pembagian kelas yang dihasilkan.
Pohon keputusan mempunyai 3 tipe
simpul yaitu:
1. Simpul akar, dimana tidak memiliki
cabang yang masuk dan memiliki cabang lebih dari satu, terkadang tidak memiliki
cabang sama sekali. Simpul ini biasanya berupa atribut yang paling memiliki
pengaruh terbesar pada suatu kelas tertentu.
2. Simpul internal, dimana hanya
memiliki 1 cabang yang masuk, dan memiliki lebih dari 1 cabang yang keluar.
3. Simpul daun, atau simpul akhir
dimana hanya memiliki 1 cabang yang masuk, dan tidak memiliki cabang sama
sekali dan menandai bahwa simpul tersebut merupakan label kelas.
Tahap awal dilakukan pengujian simpul
akar, jika pada pengujian simpul akar menghasilkan sesuatu maka proses
pengujian juga dilakukan pada setiap cabang berdasarkan hasil dari pengujian.
Hal ini berlaku juga untuk simpul internal dimana suatu kondisi pengujian baru
akan diterapkan pada simpul daun. Pada umumnya proses dari sistem pohon
keputusan adalah mengadopsi strategi pencarian top-down untuk solusi ruang
pencariannya. Pada proses mengklasifikasikan sampel yang tidak diketahui, nilai
atribut akan diuji pada pohon keputusan dengan cara melacak jalur dari titik
akar sampai titik akhir, kemudian akan diprediksikan kelas yang ditempati
sampel baru tersebut.
Pohon keputusan banyak digunakan
dalam proses data mining karena memiliki beberapa kelebihan, yaitu:
1. Tidak memerlukan biaya yang mahal
saat membangun algoritma.
2. Mudah untuk diinterpetasikan.
3. Mudah mengintegrasikan dengan
sistem basis data.
4. Memiliki nilai ketelitian yang
lebih baik.
5. Dapat menemukan hubungan tak
terduga dan suatu data.
SUMBER:



Tidak ada komentar:
Posting Komentar